Relokasi Industri China Mengalir ke Jababeka, Imbas Tarif Tinggi AS
Direktur Utama PT Jababeka Tbk. (KIJA), Setyono Djuandi Darmono (SD Darmono), mengungkapkan bahwa kawasan industri Jababeka mengalami peningkatan signifikan dalam kunjungan dan minat investasi dari perusahaan-perusahaan asal China sejak awal 2025.
Halo Pabrikers, Direktur Utama PT Jababeka Tbk. (KIJA), Setyono Djuandi Darmono (SD Darmono), mengungkapkan bahwa kawasan industri Jababeka mengalami peningkatan signifikan dalam kunjungan dan minat investasi dari perusahaan-perusahaan asal China sejak awal 2025. Fenomena ini disebut sebagai dampak langsung dari kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap barang impor asal Tiongkok.
“Sejak awal 2025 kami melihat kenaikan minat dan kunjungan dari perusahaan Tiongkok dan Asia Timur. Kebijakan tarif AS mendorong strategi China+1, sehingga Indonesia—termasuk Jababeka—menjadi tujuan relokasi,” ujar Darmono dalam keterangannya kepada Bisnis, Selasa (19/8/2025).
Ia menjelaskan, mayoritas perusahaan yang mempertimbangkan ekspansi ke Indonesia berasal dari sektor energi, kendaraan listrik (EV), elektronik, hingga logistik. Peningkatan ini diyakini sebagai respons dari perusahaan China terhadap tekanan ekonomi akibat tarif bea masuk yang kini melampaui 30% untuk produk asal negeri tersebut.
Sebagai langkah strategis, Jababeka telah menyiapkan sejumlah proyek untuk menyambut gelombang relokasi tersebut. Darmono mengungkapkan, kawasan Jababeka Cikarang akan direposisi sebagai bagian dari metropolitan Jakarta, guna menarik minat investor global sebagai pusat industri modern bertaraf internasional.
Selain itu, pengembangan kawasan industri Jababeka di Kendal dan Batang turut menjadi fokus utama perusahaan dalam mendukung investasi padat karya dan sektor kendaraan listrik. Kawasan ini telah memperoleh dukungan dari pemerintah pusat melalui status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta infrastruktur pendukung yang terus berkembang, menjadikan Jawa Tengah sebagai basis produksi yang efisien dan kompetitif.
“Untuk proyek Tanjung Lesung, kami sedang menyiapkan KEK pariwisata maritim dengan pembangunan jalan tol 89 km yang hampir selesai serta pengembangan lapangan terbang perintis. Kawasan ini akan menjadi destinasi wisata maritim internasional,” jelas Darmono.
Di sisi timur Indonesia, Jababeka juga tengah menyiapkan proyek ambisius di Pulau Morotai. Kawasan ini dirancang menjadi pusat logistik internasional untuk Indonesia Timur, dimulai dengan pengembangan sektor pariwisata dan perikanan, sebelum berkembang ke logistik skala besar.
“Jababeka kini bukan hanya kawasan industri di Cikarang. Kami membangun ekosistem nasional: Kendal–Batang untuk industri padat karya dan EV, Cikarang sebagai metropolitan modern, Tanjung Lesung untuk wisata maritim, dan Morotai sebagai hub logistik Indonesia Timur,” tegasnya.
Sebelumnya, laporan Reuters berjudul “Chinese Investors Eyeing Indonesia Avoid US Tariffs, Tap Local Market” mencatat lonjakan minat dari perusahaan-perusahaan China untuk memperluas bisnis ke Indonesia. Pendiri firma konsultan industri PT Yard Zeal Indonesia, Gao Xiaoyu, menyatakan bahwa pihaknya kewalahan menangani permintaan perusahaan China yang ingin relokasi demi menghindari tarif tinggi dari AS.
“Kami cukup sibuk akhir-akhir ini. Kami rapat dari pagi hingga malam,” kata Gao dalam laporan tersebut.
Sebagai informasi, pada tahun ini Amerika Serikat menetapkan bea masuk sebesar 19% untuk barang impor dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand, serta 20% untuk Vietnam. Sementara itu, produk asal China dikenai tarif lebih dari 30%. Di tengah situasi ini, Indonesia dinilai unggul berkat potensi pasar domestik yang besar dan statusnya sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara serta negara dengan populasi keempat terbanyak di dunia.
Dengan momentum global yang kian menguntungkan, kawasan industri seperti Jababeka bersiap memainkan peran strategis dalam peta investasi regional dan global.