Loker : HRGA Staff 📍 Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

📩 Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Pasar Domestik Jadi Andalan, PMI Manufaktur Indonesia Februari 2025 Lampaui AS

Hallo Pabrikers, Industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren ekspansif pada awal 2025. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Februari 2025 tercatat di level 53,6, meningkat 1,7 poin dibandingkan Januari yang berada di angka 51,9.

Mar 10 2025, 14:00

Jakarta,-

Hallo Pabrikers, Industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren ekspansif pada awal 2025. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Februari 2025 tercatat di level 53,6, meningkat 1,7 poin dibandingkan Januari yang berada di angka 51,9.

Capaian ini menempatkan PMI manufaktur Indonesia di atas beberapa negara lain, termasuk Amerika Serikat (51,6), Taiwan (51,5), Filipina (51,0), China (50,8), Thailand (50,6), Malaysia (49,7), Vietnam (49,2), Jepang (48,9), Myanmar (48,5), Jerman (46,1), dan Inggris (46,4).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa pertumbuhan sektor manufaktur didorong oleh peningkatan produktivitas guna memenuhi permintaan pasar domestik yang terus meningkat.

“Pasar domestik masih menjadi andalan. Oleh karena itu, perlu dipastikan bahwa gempuran impor dapat ditekan melalui kebijakan safeguard, larangan terbatas (lartas), dan regulasi lainnya guna melindungi industri dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Senin (3/3).

Di tengah dinamika politik dan ekonomi global, Agus optimistis industri manufaktur nasional tetap memiliki kepercayaan tinggi dalam menjalankan usahanya. Menurutnya, kondisi ini didukung oleh regulasi pemerintah yang berorientasi pada peningkatan produktivitas dan daya saing sektor industri.

Agus menekankan pentingnya tata kelola impor yang tepat untuk melindungi industri dalam negeri. Ia mencontohkan optimisme di sektor tekstil yang meningkat seiring dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) baru terkait pengendalian impor tekstil dan produk tekstil.

“Kebijakan ini akan menciptakan persaingan yang lebih adil di pasar domestik, terutama terhadap barang impor yang diduga melakukan praktik dumping. Diharapkan, regulasi serupa juga diterapkan pada komoditas hilir lainnya yang langsung dikonsumsi masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Agus menyebutkan bahwa industri manufaktur masih menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia meyakini bahwa PMI manufaktur Indonesia dapat meningkat lebih tinggi jika didukung dengan kebijakan strategis, termasuk revisi kebijakan relaksasi impor pada tujuh subsektor industri.

Ekspansi PMI Manufaktur Indonesia pada Februari 2025 ini menjadi yang tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Capaian ini juga selaras dengan kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai level 53,15, naik 0,05 poin dibandingkan Januari 2025 dan meningkat 0,59 poin dibandingkan Februari tahun sebelumnya.

“Dengan berbagai strategi dan inovasi dari pelaku industri serta dukungan berkelanjutan dari pemerintah, kami optimistis sektor manufaktur dapat terus tumbuh positif dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya.

Agus juga mengapresiasi keberlanjutan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk industri yang menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, ia mendukung pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai upaya mempercepat pengembangan proyek strategis, termasuk di sektor manufaktur.

Ia berharap investasi dari Danantara dapat dialokasikan untuk melengkapi rantai industri yang masih belum sepenuhnya terisi.

“BPI Danantara akan berkontribusi terhadap kemajuan industri manufaktur Indonesia dengan fokus pada hilirisasi, transformasi digital, dan pengembangan industri hijau,” ungkapnya.

Menjelang Maret 2025, Agus optimistis PMI manufaktur Indonesia akan tetap dalam fase ekspansi, seiring meningkatnya produksi dan aktivitas pembelian selama bulan Ramadan. (*)




Source: kumparan.com

Berita Terkait

No Posts Found