Loker : HRGA Staff 📍 Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

📩 Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Kisah Evergrande Terancam Bangkrut dan Pentingnya Budget and Cost Control

China Evergrande Group, perusahaan properti terbesar kedua di Tiongkok berdasarkan penjualan, terancam bangkrut karena terlilit utang hingga US$ 300 miliar.

Nov 24 2021, 06:00

Cikarang,-

Halo Pabrikers, China Evergrande Group, perusahaan properti terbesar kedua di Tiongkok berdasarkan penjualan, terancam bangkrut karena terlilit utang hingga US$ 300 miliar.

Jika bangkrut, dampaknya akan sangat besar terhadap sistem keuangan Tiongkok. "Kebangkrutan Evergrande akan menjadi ujian terbesar sistem keuanga Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir," kata Mark William, ekonom Asia Capital Economics.


Apa itu Evergrande?

Dulu Evergrande dikenal dengan nama Hengda. Evergrande adalah perusahaan properti terbesar kedua di Tiongkok berdasarkan penjualan.

Evergrande memiliki kantor pusat di Shenzhen. Evergrande menjual apartemen ke kelas menengah dan menengah ke atas. Evergrande memiliki proyek di 280 kota.


Baca Juga : Ikuti 2 Days Training, Budgeting dan Cost Control di Masa Pandemi



Perusahaan ini didirikan pada 1997 oleh Hui Ka Yan, salah satu orang terkaya di Tiongkok. Maret lalu, Forbes menempatkan Hui orang terkaya ketiga di Tiongkok, tetapi pada Desember turun ke no.10.

Evergrande menjadi besar seiring booming ekonomi Tiongkok. Evergrande telah mengerjakan 1.300 proyek, mulai dari komersial hingga infrastruktur, 200.000 karyawan, dan secara tidak langung menciptakan 3,8 juta lapangan kerja. Evergrande Group juga memiliki usaha di bidang makanan, asuransi, TV/film, pariwisata, hingga klub sepak bola.


Kenapa Utang Evergrande Begitu Besar?

Perusahaan yang terdaftar di Hong Kong ini mengandalkan utang untuk mendanai pertumbuhan yang cepat. Tetapi perusahaan itu dalam beberapa tahun terakhir berjuang untuk melunasi utangnya.

Beberapa tahun terakhir, Evergrande menggencarkan akuisis di tengah tingginya permintaan real estate. Tetapi raksasa properti ini mulai jatuh sejak Pemerintah memberlakukan peraturan baru pada Agustus 2020 terkait batas total utang perusahaan properti.

Evergrande mengandalkan prapenjualan untuk mendanai proyek-proyeknya. Peraturan baru Tiongkok membuat Evergrande terpaksa menjual proyek-proyeknya dengan diskon tinggi.

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memangkas peringkat perusahaan menjadi CC. Moody's juga memangkas peringkatnya, menunjukkan kemungkinan default atau sangat dekat dengan default. Sementara Goldman Sachs telah memangkas kepemilikan sahamnya dari netral menjadi jual.

Saham Evergrande juga anjlok 80% sejak awal tahun, dari 14,14 dolar Hong Kong menjadi 2,54 dolar Hong Kong. Obligasi perusahaan juga disuspen oleh otoritas pasar modal Tiongkok.


Dampak jika Evergrande Bangkrut

Real estate adalah salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok, dengan kontribusi 29% terhadap PDB. Kebangkrutan perusahaan berskala besar akan memiliki dampak besar.

Sektor perbankan, investor/pembeli rumah, kontraktor adalah tiga kelompok yang paling terdampak jika Evergrande bangkrut.

Sebelumnya, perusahaan telah menjual aset termasuk melepas saham dalam kepemilikan, seperti aset pada bisnis internet yang terdaftar di Hong Kong, aset di bank regional, dan perusahaan properti di daratan Tiongkok. Sementara itu laporan yang dilansir dari AFP mengatakan, perusahaan sedang mempertimbangkan penjualan kantor pusatnya di Hong Kong beserta sebidang tanah besar di kota dengan nilai jual rugi.

Puluhan investor/pembeli rumah melakukan demonstrasi di kantor Evergrande awal pekan ini. Mereka semakin marah karena Evergrande menawarkan properti dan tempat parkir sebagai ganti rugi, bukan pembayaran tunai, membuat investor semakin marah.

Para ahli mengatakan, pengembang yang sahamnya terdaftar di Hong Kong itu memiliki lebih dari 1 juta unit prabayar yang belum dibangun. Banyak dari demonstran merupakan pembeli yang pertama kali mencoba menginjakkan kaki di pasar properti Tiongkok.

Perusahaan pada Selasa (14/9) mengakui bahwa pihaknya berada di bawah tekanan luar biasa dan mungkin tidak dapat memenuhi kewajibannya. Namun, analis percaya bahwa terlepas dari masalah kelompok itu, pemerintah Tiongkok tidak akan membiarkan raksasa seperti itu bangkrut. Malah akan mendorong perusahaan menurunkan utang dan menerapkan tekanan untuk mengurangi eksposurnya.

"Gagal bayar Evergrande dapat merusak kepercayaan konsumen jika itu mempengaruhi simpanan rumah tangga untuk rumah yang belum selesai. Tetapi kami menganggap pemerintah akan bertindak untuk melindungi kepentingan rumah tangga, membuat hal ini tidak mungkin," kata lembaga pemeringkat internasional kredit Fitch Ratings dalam catatan Rabu lalu.

Pelaku pasar dari Hong Kong ke New York sejauh ini menanggapi masalah Evergrande dengan tenang, terlepas dari berita buruk tentang perusahaan selama berbulan-bulan.

Bagi siapa saja yang ingin memiliki kemampuan yang baik dalam Budgeting & Cost Control. Silahkan ikuti “Days Training : Effective Budgeting & Cost Control For Manufacturing” pada tanggal 17-18 Desember 2021. Bagi yang ingin daftar bisa isi formulir disini. Informasi selengkapnya bisa di baca disini (*)


Baca Juga : Ikuti 2 Days Training, Budgeting dan Cost Control di Masa Pandemi



Source : Beritasatu

Berita Terkait

No Posts Found