Loker : HRGA Staff ðŸ“ Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

📩 Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Implikasi AI, 3,000 Pekerja Teknologi Hidup Dalam Ketidakpastian Pengangguran

Penyelenggara Game Developers Conference (GDC) telah merilis survei tahunan mereka mengenai keadaan industri game

Jan 22 2024, 03:00

Cikarang,-

Hallo Pabrikers, Penyelenggara Game Developers Conference (GDC) telah merilis survei tahunan mereka mengenai keadaan industri game. Dari lebih dari 3.000 responden, hingga 84% mengatakan mereka agak atau sangat prihatin terhadap etika penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif dalam industri game. Temuan ini menguraikan alasan kekhawatiran pengembang. Alasannya antara lain potensi AI menggantikan pekerja manusia, peningkatan PHK, dan potensi pengembang terkena klaim pelanggaran hak cipta. Pengembang juga khawatir bahwa kehadiran AI dapat memungkinkan data diekstraksi dari game mereka  tanpa persetujuan mereka.

Studi GDC mengamati lebih dekat sentimen pengembang terhadap AI berdasarkan jabatan. Responden yang bekerja di bidang yang lebih teknis seperti pemasaran, pemrograman, dan bisnis umumnya percaya bahwa AI akan memberikan dampak positif pada pekerjaan mereka. Sementara itu, responden yang berprofesi di bidang kreatif seperti seni, penceritaan, dan penjaminan mutu merasa bahwa AI akan berdampak negatif pada pekerjaan mereka.

“Menurut saya, itu masalah nyata ketika seseorang benar-benar berganti pekerjaan,” tulis responden yang tidak disebutkan namanya (Senin (22/01/2023)). Dikutip dari The Verge.

“AI harus digunakan untuk meningkatkan tenaga kerja, bukan menguranginya,” lanjutnya.

Pemilihan perangkat lunak mesin video game adalah salah satu topik utama penelitian ini. 33% responden menggunakan Unity atau Unreal Engine untuk pengembangan. Penyelenggara Konferensi Pengembang Game (GDC)  telah merilis survei tahunan mereka mengenai keadaan industri game. Dari lebih dari 3.000 responden, hingga 84% mengatakan mereka agak atau sangat prihatin terhadap etika penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif dalam industri game.

Temuan ini menguraikan alasan kekhawatiran pengembang. Alasannya antara lain potensi AI menggantikan pekerja manusia, peningkatan PHK, dan potensi pengembang terkena klaim pelanggaran hak cipta. Pengembang juga khawatir bahwa kehadiran AI dapat memungkinkan data diekstraksi dari game mereka  tanpa persetujuan mereka.




source cnbcindonesia.com

Berita Terkait

No Posts Found