Apindo Peringatkan Kemungkinan Krisis Industri Manufaktur RI dalam 2 Bulan Tanpa Langkah Tegas Pemerintah
Hallo Pabrikers, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memberikan peringatan serius mengenai potensi krisis yang dapat melanda sektor manufaktur Indonesia jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan tegas.
Jakarta,–
Hallo Pabrikers, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memberikan peringatan serius mengenai potensi krisis yang dapat melanda sektor manufaktur Indonesia jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan tegas. Ketua Bidang Industri Apindo, Bobby Gafur Umar, menegaskan bahwa tanpa intervensi yang efektif, industri manufaktur dapat mengalami penurunan signifikan dalam waktu 2 hingga 3 bulan ke depan.
Peringatan ini disampaikan setelah laporan Purchasing Manager's Index (PMI) S&P Global menunjukkan kinerja manufaktur Indonesia pada Juli 2024 berada di zona kontraksi dengan angka 49,3. Angka ini adalah yang terendah sejak Agustus 2021. "Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan, banyak sektor manufaktur akan terpuruk. Kontribusi manufaktur terhadap PDB sangat besar, mencapai lebih dari 10%. PMI yang berada di bawah 50 menunjukkan bahwa sektor ini sudah mengalami penurunan," ujar Bobby saat dihubungi pada Senin, 5 Agustus 2024.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2024 mencapai 5,05%, menurun dari pertumbuhan 5,11% pada kuartal I-2024. Kontribusi industri pengolahan atau manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi juga mengalami penurunan, dari 0,86% pada kuartal I-2024 menjadi 0,79% pada kuartal II-2024, dan 0,98% pada kuartal II-2023.
Bobby juga menyoroti dampak kebijakan bea masuk antidumping (BMAD) yang belum diterapkan secara efektif, seperti yang terlihat pada industri keramik. "Contohnya, produk keramik dari China dikenakan bea masuk 400% di Amerika, sehingga produk tersebut mengalir ke pasar Indonesia," jelasnya.
Lebih jauh, Bobby menjelaskan bahwa kontraksi ekonomi pascapandemi dan dampak perang antara Rusia dan Ukraina juga mempengaruhi penurunan PMI. Meskipun pemerintah telah mengimplementasikan kebijakan untuk meningkatkan pangsa pasar domestik melalui program tingkat komponen dalam negeri (TKDN), koordinasi antara kementerian perlu ditingkatkan untuk menghindari dampak negatif yang lebih luas terhadap industri manufaktur.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pemerintah masih mengidentifikasi penyebab penurunan PMI. "Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah penurunan permintaan domestik dan ekspor yang melemah, meski ada harapan dari pasar India," katanya setelah konferensi pers KSSK III-2024 pada Jumat, 2 Agustus 2024.
Sri Mulyani menambahkan bahwa meskipun PMI manufaktur terkontraksi, indeks kepercayaan bisnis justru menunjukkan level tertinggi sejak Februari. Pemerintah berencana untuk mendukung sektor manufaktur dengan berbagai kebijakan, termasuk penerapan bea masuk antidumping untuk melindungi industri domestik dari persaingan tidak sehat.
"PMI manufaktur yang menurun mungkin bersifat sementara. Kami berharap ada peningkatan volume penjualan dan produksi di masa mendatang. Pemerintah akan terus memberikan dukungan yang diperlukan," pungkasnya.
Menurut Paul Smith dari S&P Global Market Intelligence, penurunan PMI pada Juli juga dipengaruhi oleh perlambatan pasar secara umum, penurunan pesanan baru, dan produksi yang turun untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Indeks produksi manufaktur terperosok ke angka 48,8 pada Juli, dibandingkan dengan 51,4 pada Juni.
Sebagai tambahan, survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian menunjukkan penurunan dari 52,5 pada Juni 2024 menjadi 52,4 pada Juli 2024, mencerminkan penurunan dalam variabel pesanan baru dan produksi, meskipun terdapat peningkatan pada variabel persediaan produk. (*)
Source : bloombergtechnoz.com