Loker : HRGA Staff ๐Ÿ“ Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

๐Ÿ“ฉ Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

15 Pekerjaan Ini Akan Menyusut Akibat AI hingga 2030, Admin HRD Salah Satunya

Hallo Pabrikers, Gelombang transformasi digital yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi telah mengubah peta dunia kerja secara masif. Dalam lima tahun ke depan, sejumlah profesi diperkirakan akan berkurang drastis, terutama di sektor-sektor yang bersifat administratif dan repetitif.

Jul 31 2025, 05:30

Bekasi,-

Hallo Pabrikers, Gelombang transformasi digital yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi telah mengubah peta dunia kerja secara masif. Dalam lima tahun ke depan, sejumlah profesi diperkirakan akan berkurang drastis, terutama di sektor-sektor yang bersifat administratif dan repetitif.

Laporan terbaru Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) mengungkapkan bahwa berbagai jenis pekerjaan berisiko tinggi tergantikan oleh teknologi otomatis. Laporan ini dihimpun dari survei terhadap lebih dari 1.000 perusahaan global yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja di berbagai sektor industri.

Pekerjaan administratif jadi sorotan

Sektor pekerjaan yang paling terdampak adalah pekerjaan administratif. Petugas layanan pos diproyeksikan menyusut hingga 40 persen. Sementara itu, teller bank dan petugas entri data masing-masing diperkirakan akan menurun 35 persen dan 34 persen hingga tahun 2030.

Tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan oleh manusia kini lebih efisien jika dijalankan oleh sistem otomatis. โ€œPekerjaan seperti entri data, pengarsipan, hingga layanan pelanggan standar kini dapat ditangani dengan akurasi tinggi oleh AI,โ€ tulis laporan tersebut.

Hal serupa juga mulai dirasakan di sektor ritel. Posisi kasir dan petugas tiket semakin tergeser karena menjamurnya sistem self-checkout dan transaksi digital. Peran asisten administrasi dan sekretaris juga masuk daftar profesi yang menyusut cepat.

Tidak semua otomatisasi berjalan mulus

Namun, penerapan teknologi bukan tanpa kendala. Beberapa upaya otomatisasi justru berujung pada kegagalan. Contohnya, program โ€œJust Walk Outโ€ milik Amazon yang diklaim bebas kasir ternyata masih membutuhkan ribuan pekerja di India untuk memverifikasi transaksi secara manual.

Sementara itu, McDonaldโ€™s menghentikan uji coba sistem drive-thru berbasis AI setelah mengalami berbagai kendala teknis, seperti kesalahan mengenali pesanan dan gangguan suara. Kasus ini menjadi pengingat bahwa adopsi AI perlu disertai pendekatan realistis dan evaluasi mendalam.

Kreativitas pun tak luput dari ancaman

Selain pekerjaan administratif, beberapa profesi kreatif dan legal pun terancam. Desainer grafis, sekretaris hukum, hingga tenaga telemarketing termasuk dalam daftar pekerjaan yang diprediksi mengalami penurunan karena tugas-tugas mereka kini mulai bisa digantikan oleh AI.

AI kini mampu menghasilkan desain visual, menyusun jawaban hukum dasar, bahkan melakukan panggilan penawaran produk secara otomatis dan personal.

Berikut daftar 15 pekerjaan yang diperkirakan paling cepat menyusut 2025โ€“2030:

  1. Petugas Pos (โ€“40%)

  2. Teller Bank (โ€“35%)

  3. Petugas Entri Data (โ€“34%)

  4. Asisten Administrasi (โ€“34%)

  5. Sekretaris Eksekutif & Administratif (โ€“33%)

  6. Petugas Gudang & Pengelola Barang (โ€“32%)

  7. Telemarketing (โ€“30%)

  8. Sekretaris Hukum (โ€“30%)

  9. Kasir dan Petugas Tiket (โ€“29%)

  10. Resepsionis & Asisten Informasi (โ€“29%)

  11. Pekerja Data dan Informasi (โ€“28%)

  12. Pekerja Kantor Umum (โ€“27%)

  13. Desainer Grafis (โ€“26%)

  14. Admin HR (โ€“25%)

  15. Layanan Konsumen (โ€“24%)

Adaptasi jadi kunci bertahan

Meskipun banyak profesi akan terdampak, WEF juga menekankan bahwa perkembangan teknologi justru akan menciptakan lapangan kerja baru โ€” terutama di bidang teknologi hijau, analisis data, dan keamanan siber.

Namun, untuk bisa mengambil peluang tersebut, peningkatan keterampilan sangat diperlukan. Pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan literasi digital adalah langkah strategis yang harus segera diambil, baik oleh individu, institusi pendidikan, maupun pemerintah.

Transformasi ini bukan sekadar tentang menggeser pekerjaan, tetapi juga soal bagaimana kita siap beradaptasi dan menciptakan peran baru yang lebih relevan di tengah dunia yang makin terdigitalisasi. (*)

Berita Terkait

No Posts Found